-)Knowledge and Tecnology
#SejarahNYA#
Kontribusi
kaum Muslim dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah
dimulai sejak abad-abad lamanya. Para intelektual muslim di zaman dahulu
telah menciptakan suatu konsep-konsep ilmu pengetahuan secara aspek
fisik (kualitatif) dan aspek matematis (kuantitatif) dari suatu ilmu
pengetahuan. Mereka melakukan penelitian terhadap aspek kualitatif
maupun kuantitatif dari berbagai problem ilmiah. Bidang-bidang keilmuan
yang ditekuninya pun beragam, mulai dari fisika, kimia, matematika,
astronomi, kedokteran, geografi, dan sebagainya.
Sebelum
kedatangan Islam, bangsa Arab hanya menguasai pengetahuan yang minim
dalam bidang sejarah dan geografi. Pengetahuan sejarah yang dimiliki
hanya terbatas pada informasi tentang suku-suku lokal serta wilayahnya
masing-masing. Islam sebagai ideologi mendorong manusia untuk berpikir
dan memperoleh pendidikan. Kaum muslim diwajibkan untuk berinteraksi
dengan umat lain dalam rangka menyampaikan dakwah kepada mereka. Dalam
upayanya melaksanakan tugas ini, kaum Muslim diperintahkan untuk
membangun kekuatan material. Khalifah bertanggung jawab untuk
menggunakan segala cara yang sesuai hukum syara’ untuk memelihara urusan
umat. Ini semua merupakan faktor yang mendorong kaum Muslim untuk
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sejarah
ilmuwan Islam menyisakan cerita perjalanan panjang para ilmuwan muslim
dalam berbagai bidang keilmuan. Penelitian serta berbagai penemuan
menjadi hal yang biasa dalam menghiasi perjalanan cerita sejarah ilmuwan
Islam. Ilmu menjadi “santapan” mereka setiap harinya.
Sejak turun
wahyu pertama pada tahun 610 masehi, Islam menunjukkan keberpihakannya
pada ilmu pengetahuan. Wahyu tersebut terdapat pada surat Al-Alaq ayat
1, “Iqra bismirabbikalladzi khalaq.” Ayat ini mendorong pada umat Islam
untuk mendalami ilmu. Maka, berabad-abad setelahnya, dunia mencatat
jejak-jejak sejarah ilmuwan Islam yang tak terhitung banyaknya.
Jejak ilmu
pengetahuan memang tidak secara nyata mewarnai masa permulaan Islam,
mengingat budaya bangsa Arab masa itu begitu jauh dari ilmu. Bahkan,
tenggelam pada kegelapan jahiliyah. Namun, Islam secara perlahan
menyalakan kegairahan terhadap ilmu, merangsang elemen terpenting dari
manusia, yakni pikiran. Dasar itulah yang banyak ikut menciptakan
sejarah perjalanan kiprah para ilmuwan Islam. Sejarah ilmuwan Islam
meninggalkan jejak yang hingga kini masih bisa dideteksi oleh para
sejarawan. Jejak-jejak tersebut sangat terasa dalam beberapa bidang
keilmuan. Hasil pemikiran para ilmuwan Islam pada zaman dahulu nyatanya
masih tetap abadi hingga kini. Hal abadi yang sulit untuk lekang oleh
waktu memang ilmu pengetahuan. Ibaratnya, keilmuan adalah suatu warisan
peradaban yang tidak bisa dinilai dengan angka
#Sejarah Para Ilmuwan Islam#
Para ilmuwan
Islam sudah mengenal aspek fisik (kualitatif) dan aspek matematis
(kuantitatif) dari suatu ilmu pengetahuan. Mereka melakukan penelitian
terhadap kedua aspek tersebut yang ditinjau dari sisi ilmiah. Sebagai
contoh, kiprah Ibnu Khurdadhbih menghitung derajat lintang dan bujur
berbagai tempat di dunia Islam, serta Al-Biruni yang menghitung
kemolaran (konsentrasi) sejumlah zat kimia.
Eksperimen-eksperimen
ilmiah dalam bidang kimia, fisika, dan farmasi dilakukan di
laboratorium; sedangkan penelitian dalam bidang patologi dan pembedahan
dilakukan di rumah sakit-rumah sakit. Sejumlah observatorium juga
dibangun di beberapa lokasi di dunia Islam, seperti di Damaskus,
Baghdad, dan Naisabur, untuk melakukan pengamatan astronomi.
Persiapan
bedah mayat juga dilakukan dalam rangka praktik pengajaran anatomi.
Khalifah al-Mu’tashim pernah mengirimkan kera untuk dijadikan peraga
dalam kegiatan ini. Demonstrasi operasi pembedahan bagi para mahasiswa
diberikan di rumah sakit-rumah sakit.
Pada abad 11
dan 12 M, tingkat pemahaman aksara di kalangan kaum Muslimin mencapai
level tertinggi. Tingginya semangat keilmuan pada masa itu diindikasikan
dengan karya optik Shihab al-Din al-Qirafi, seorang ulama fiqih dan
juga hakim di Kairo (wafat pada tahun 1285) yang menangani 50 macam
masalah penglihatan.
Dalam
naungan hukum Islam, para ilmuwan tidak hanya memberikan kontribusi demi
kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga mengaplikasikan penemuan
ilmiahnya dalam bentuk inovasi teknologi. Sebagai contoh, di dalam
bidang astronomi, mereka mengamati bintang-bintang, kemudian menyusun
peta bintang untuk keperluan navigasi, dan hingga saat ini konsep
tersebut masih digunakan sebagai Tata Koordinat Benda Langit (Saat ini
sudah dikenal 3 macam Tata Koordinat Benda Langit yaitu tata ekliptik,
tata equator, dan tata galaktik). Kemudian dalam bidang fisika, Ibnu
Yunus memanfaatkan pendulum untuk menentukan ukuran waktu. Ibnu Sina
menggunakan termometer udara untuk mengukur temperatur udara. Kertas,
kompas, bubuk mesiu, asam anorganik, dan alkali, merupakan sebagian
bukti penting perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan
ilmuwan Muslim yang menghasilkan revolusi peradaban manusia yang tidak
pernah terjadi sebelumnya.
Para
ilmuwan Muslim menjadikan aljabar sebagai cabang dari matematika.
Istilah ‘aljabar’ berasal dari bahasa Arab yaitu ‘Jabr’. Para
cendekiawan Muslim juga mengembangkan trigonometri bidang datar dan
sferis, serta mengaplikasikannya dalam ilmu astronomi (Saat ini
pengaplikasian trigonometri dalam bidang astronomi digunakan dalam
konsep metode paralaks bintang). Mereka juga memisahkan astrologi dan
astronomi, karena astrologi yang berkeyakinan bahwa posisi bintang dapat
menentukan nasib hidup manusia, merupakan bid’ah dalam Islam. Maka
astronomi berkembang menjadi ilmu murni setelah dibersihkan dari
kepercayaan-kepercayaan yang bersifat takhayul.
Berbagai
kata atau istilah Arab yang banyak digunakan dalam bahasa Eropa menjadi
monumen hidup kontribusi kaum Muslim pada sains modern. Disamping itu,
sejumlah besar buku di berbagai perpustakaan di Asia dan Eropa,
museum-museum di berbagai negeri, serta masjid dan istana yang dibangun
berabad-abad silam juga merupakan bukti adanya fenomena penting ini
dalam sejarah dunia.
Dalam
proses penerjemahan, banyak nama ilmuwan Muslim yang mengalami
perubahan, sehingga membuat para pembaca mengira mereka adalah
orang-orang non-Muslim dari Eropa. Beberapa nama di antaranya adalah
Abul Qasim al-Zahrawi (Albucasis), Muhammad ibnu Jabir ibnu Sinan
al-Battani (Albetinius), dan Abu ‘Ali ibnu Sina (Avicenna).
Sumber : http://masjidkampus.unpad.ac.id/
Komentar
Posting Komentar